image description


ARIPITSTOP.COM – Mulai tanggal 1 Januari 2018, jabatan Presiden di Yamaha Global telah berubah. Pada awal bulan November 2017 lalu Yamaha mengumumkan pergantian di posisi puncaknya. Presiden Direktur Yamaha Hiroyuki Yanagi akan digantikan oleh Yoshihiro Hidaka, pergantian jabatan itu berlaku mulai 1 Januari 2018.
instagram-aripitstop

Yanagi yang sudah menjabat presiden direktur Yamaha sejak 2010 akan mengisi posisi barunya sebagai Chairman and Representative Director. Hidayaka selama ini dikenal sebagai salah satu senior executive officer dan direktur di Yamaha. Hidayaka yang lahir 24 Juli 1963 merupakan lulusan hukum dari Universitas Nagoya. Dia mulai bergabung di Yamaha pada bulan April 1987. Tahun 2010, dia diminta untuk menangani Yamaha di Amerika Serikat. Pada tahun 2016, Hidayaka juga sempat menangani penjualan Yamaha di ASEAN.

Dilansir dari Nikkei Asian Review, Hidaka, yang mengambil alih posisi sebagai presiden pada hari Senin, mengatakan bahwa Yamaha berencana untuk menambahkan model listrik yang lebih kuat ke jajaran produknya, Dia juga berencana untuk mengatur ulang berbagai operasi yang berkaitan dengan teknologi otomasi (misalnya robot industri dan helikopter pertanian) ke departemen robotika, untuk “memperluas bisnis bernilai sekitar 100 miliar yen (658 juta dolar) untuk 4 atau 5 tahun kedepan”.

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya kalau Yamaha sudah terkena imbas dari pengembangan motor listrik, Yamaha Indonesia beberapa waktu yang lalu memperkenalkan motor listriknya meski belum diproduksi massal. YIMM bekerja sama dengan empat institusi diantaranya Kebun Raya Bogor, Universitas Pelita Harapan (UPH), PT. Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia dan The Breeze BSD, melakukan uji coba motor listrik Yamaha. Motor listrik tersebut nantinya digunakan sebagai transportasi di kawasan internal mereka.

Yamaha memasukkan motor listriknya bernama Yamaha EV alias Yamaha Electric Vehicle, kalau dilihat sich ini Yamaha E-Vino. Namun pihak Yamaha secara jelas belum menjual motor ini untuk bebas, ada tiga alasan yang dipaparkan oleh Dyonisius Beti, Executive Vice President and CEO PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing.

Yang pertama perihal masyarakat yang dinilai belum bisa sepenuhnya menerima perindahan dari motor bakar ke motor listrik, terutama soal safety ketika menghadapi banjir, motor listrik sangat berbahaya jika dipaksa menerjang banjir. Yang kedua karakter masyarakat Indonesia, keselamatan saat berkendara, dengan kondisi behavior dan traffic yang semrawut dan padat, sepeda motor listrik ini kan tanpa suara, dan itu cukup berbahaya jika masuk ke kondisi tersebut. Sebab, budaya berkendara di Indonesia itu kan berbeda dengan di Jepang.

Dan yang ketiga adalah soal battery, pak Dyon menjelaskan penanganan limbah battey harus ditangani secara seriua jangan sampai limbah battery motor listrik justru bisa meracuni bumi.

Advertisements

3 KOMENTAR

  1. betoel…dengan kondisi sekarang aja motor banyakan oknum bikers
    nggak kenal aturan, kalo lagi naik mobil sudah kasih sign kiri dia ambil kiri buat motong mobil kita…
    senggol spion tinggal jalan…
    bikin baret sudah nggak terhitung..
    trobos lamer seenak udelnya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here