ARIPITSTOP.COM – Rivalitas yang ada di trek MotoGP saat ini memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan era Max Biaggi dan Rossi atau sebut saja paling terdekat adalah antara Lorenzo, Rossi dan Marc Marquez bahkan bisa dibilang ketegangan antara Dovizioso dan Marc Marquez ketika memperebutkan gelar juara dunia. Dulu selalu ada drama yang dimainkan selain diluar trek, namun kini jauh berbeda, adem ayem… ini yang coba dikeluhkan oleh Marc Marquez.

Marc Marquez, angkat bicara soal rivalitas adem antara tiga pembalap yang sedang berburu gelar juara MotoGP musim 2022. Lihat saja Quartararo, Bagnaia, dan Aleix Espargaro seharusnya bersaing dengan ketat setelah hanya dipisahkan 17 poin dalam perburuan gelar juara MotoGP. Akan tetapi tidak ada ketegangan sedikitpun diantara mereka.

Berbeda ketika Rossi masih ikut balapan dan masih bersaing dalam perebutan gelas juara dunia. Berbagai drama telah tercipta hingga membuat Rossi seperti menjadi aktor utama, kesuksesan Rossi mengorbitkan namanya sendiri dan MotoGP tidak terlepas dari persaingan sengit yang melibatkannya di dalam maupun di luar lintasan. Sepanjang karirnya Rossi telah menciptakan banyak figur “antagonis” seperti Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Dovizioso, Jorge Lorenzo, dan Marc Marquez.

Tentu saja kini hanya tersisa Marc Marquez yang sering memperlihatkan peran antagonis di trek maupun diluar trek itupun sudah berbeda di era Rossi. Namun Marc Marquez bukan lebih berbicara di luar trek, Marc Marquez lebih menyoroti kejadian apa yang ada di dalam trek MotoGP saat ini.

“Persaingan ini sedikit mengingatkan saya dengan rivalitas saya bersama Andrea Dovizioso,” kata Marquez, dilansir dari Motorsport.

“Saya punya hubungan baik dengan Dovizioso, dengan senyuman, tetapi Anda bisa merasakan tensinya.”

“Buenrollismo (aura positif) yang hadir saat ini terjadi karena kami tidak mengalami duel yang nyata di lintasan, duel pada lap terakhir.”

Komentar Marquez ada benarnya jika berkaca dari ketegangan yang hadir dalam dua balapan terakhir. Sayangnya, duel sengit yang terjadi tidak melibatkan sosok yang diharapkan melainkan hanya Bagnaia dan si kuda hitam, Enea Bastianini. Hanya insiden antara Quartararo dan Espargaro pada GP Belanda yang menjadi pembeda walau tidak ada drama susulan.

“Hal semacam ini terjadi di Belanda antara Aleix Espargaro dan Fabio Quartararo,” ujar Marquez menambahkan.

“Namun, karena Aleix bisa bangkit, situasinya sedikit tertutupi, tapi mereka akan memahaminya.”

“Ketika saya berada dalam situasi ini, saya akan memainkan strategi yang berbeda.”

Krisis yang terjadi di Honda serta cedera yang mendera membuat Marquez membidik tahun depan untuk misi mengejar gelar juara selanjutnya.

“Seperti yang dibilang Mick Doohan, perang mental terbaik terjadi di trek,” sambung Marquez.

“Ketika Anda mengalahkan mereka, mereka bisa tampil seperti yang mereka mau, tetapi pada akhirnya mereka akan tetap kalah.”

“Saya jauh dari level itu sekarang, tetapi dari sudut pandang saya, sulit untuk memahami taktik apa yang mereka ambil.”

“Saya melihat Pecco percaya diri, Fabio tahu mereka bangkit dari ketertinggalan dan situasinya akan rumit tetapi dia mendapatkan (tantangan) lebih besar dari apa yang dia miliki.”

“Dan Aleix, adalah pesaing yang tidak memiliki tekanan, yang mana merupakan masalah yang bisa diterima.”

“Dia melepas semua tekanan dari pundaknya karena dia sudah tampil sangat bagus dengan posisinya saat ini.”

sumber: bolasport

Advertisements

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here