iklan gma

ARIPITSTOP.COM – Akhirnya selesai sudah touring bersama Honda CB150X di kawasan Bandung, di dalam event touring CB150X Adventure di kota kembang ini saya mencoba menerjemahkan apa yang saya rasakan ketika riding dengan kuda besi terbaru dari AHM, dari segi ergonomi, merasakan saluran tenaga motornya hingga tentunya dari aspek segi konsumsi bahan bakar. Perjalanan yang menarik karena disini kita melewati perjalanan perkotaan, pedesaan hingga pegunungan, jalanan aspal, jalanan rusak, ancur sampai basah-basahan…

Pada touring kali ini memang saya akui ini menjadi rute paket komplit naik motor CB150X yang bergenre motor Adventure, dari jalanan kering, hujan-hujanan, becek-becekan, jalanan aspal, tanah berbatu, jalanan mulus sampai bergelombang sukses kita lewati. Dari rute paket komplit inilah sisi kelebihan dan kekurangan CB150X ketika diajak touring benar-benar bisa tergali lebih dalam. Meski perjalanan touring kali ini menempuh hampir 90 km, namun touring ini terpisah menjadi 5 Etape perjalanan, SRC DAM – Warlos – Maribaya – Tangkuban Perahu – Bili Ranch – SRC DAM.

Seperti biasa, sebelum melakukan start, fitur Trip A dan Average yang ada di dasbor speedometer CB150X dimanfaatkan untuk mengetahui jarak tempuh dan tentunya seberapa besar konsumsi bahan bakarnya. Yap, lanjut mereset Trip A dan Average keduanya dalam kondisi angka “0”. Pada Speedometer CB150X ini sebenarnya ada dua Trip A dan Trip B yang bisa dimanfaatkan penggunanya untuk mengetahui jarak tempuh dari satu tempat ke tempat yang lain, kemudian Trip B misalnya digunakan untuk interval penggantian oli mesin.

Etape 1, SRC DAM – Warlos

Start berlokasi di Honda Safety Riding Center (SRC) daerah Cibeureum, perjalanan touring kali ini lebih special karena Presiden Direktur AHM Keiichi Yasuda dan Direktur Marketing AHM Tetsuya Komine ikut dalam rombongan, jadi ini bukan rutenya saja yang komplit akan tetapi pesertanya juga paket komplit karena dari Blogger, Vlogger, Jurnalis , Komunitas sampai seorang presdir PT AHM juga ikut riding.

Lanjut Engine ON, untuk Etape pertama ini lebih banyak jalanan aspal lurus area perkotaan Bandung, meski saat tujuan akhir Etape 1 di Warlos ada perjalanan tanjakan berbukit. Meski sudah sempat saya ceritakan ketika sesi test ride pertama CB150X di Delta Mas, kali ini kembali akan saya ulas soal ergonomi ketika berada langsung di jalan raya. Rombongan akhirnya berangkat menuju Warlos, perjalanan pertama ini langsung disuguhkan riding dalam kota dengan berbagai kondisi, dari lancar, sedikit kemacetan, naik ke jalan layang dan pastinya sering berhenti di lampu merah, meskipun touring kali ini dikawal oleh Patwal, akan tetapi kita tetap berhenti ketika lampu merah menyala.

Dengan tinggi badan saya yang 173 cm dengan bobot badan 62 kg, naik diatas jok CB150X yang memiliki ketinggian 81,7 cm ternyata tidak begitu sulit, terkesan biasa saja sih menurut saya meski kondisi kaki menapak separoh saja. Namun tentunya untuk orang yang memiliki tinggi badan 160 cm akan sedikit butuh effort yang cukup lumayan ketika diatas jok CB150X. Bisa ditengok kondisi ketika mas Taufik TMCBlog yang punya tinggi badan 160 cm, harus jinjit dan ketika berhenti di lampu merah harus menapak dengan satu kaki saja sebagai tumpuan. Jadi untuk Biker yang tingginya dibawah 170 cm harus pintar2 mengolah kaki dan badan ketika riding di perkotaan yang sering macet dan banyak lampu merahnya.

Honda CB150X memang berkarakter motor Adventure namun ternyata karakter tersebut cocok juga ketika diajak riding di perkotaan seperti area perkotaan Bandung yang banyak titik kemacetan serta banyak Traffic Light, ya mirip-mirip lah ya seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya sampai Denpasar yang pernah saya lewati juga ketika touring-touring sebelumnya. Meski memiliki mesin yang sama persis punya CB150R, akan tetapi mapping ECU dari CB150X dibedakan, perbedaan ini tentunya untuk menyesuaikan karakter motor Adventure, dan benar saja motor petualang ini memiliki karakter nafas yang agak pendek alias lebih unggul di akslerasi dibandingkan power atas punya CB150R.

Jadi karakter stop and go punya CB150X ini saya bilang cocok banget buat riding di perkotaan, mau ngebut dimana pakdhe?, baru jalan 200 meter sudah ketemu lampu merah lagi, kena macet lagi…

Sayangnya lagi asik menikmati riding kota Bandung, ketika sampai Ujung Berung cuaca kurang mendukung, gerimis mengundang terpaksa rombongan harus melipir dulu untuk memakai jas hujan.

Perjalanan dari Ujung Berung menuju Warlos kini memiliki karakter yang berbeda, jalanan berbeton nanjak terus ala2 perbukitan gitu dech… belok kek-kiri di alun-alun Ujung Berung, kita disuguhi jalanan kampung yang terus menanjak. Lagi-lagi, karakter engine dari CB150X kembali teruji, kecepatan riding di area jalanan kecil ini hanya berkisar 30-40 kpj saja akan tetapi hebatnya meski area tanjakan perkampungan justru saya lebih sering memakai gigi 3, lah kok bukannya gigi 1 atau 2. Jarang banget memindahkan posisi gigi 1, CB150X ini mengusung mesin 150cc DOHC berpendingin cairan dengan transmisi 6-percepatan dengan power maximum 11,5kW @9.000rpm dan torsi maksimum di angka 13,8Nm @7.000rpm. Torsi dari CB150X ini mantep juga, faktanya tanjakan jalanan kampung tentunya akan berbeda dengan tanjakan area jalan raya, Torsinya tetap padet sehingga tenaga motor ini terus ngisi, nggak ada loyonya sama sekali.

Masih dalam cuaca yang hujan rintik-rintik, akhir perjalanan Etape pertama yang menempuh jarak sekitar 23 km berhenti di warung kopi Warlos, di area ini sudah mulai nampak area perbukitan area hutan yang dipenuhi pohon pinus yang tinggi-tinggi.

Etape 2, Warlos – Maribaya

Etape kedua ini saya bilang jalur yang paling menyiksa, pemandangan di tengah hutan dengan kontur jalanan yang paling beragam. Meskipun menyiksa tapi disinilah bisa menguji karakter Honda CB150X dengan kondisi jalanan yang rusak dan berbatu. Perjalanan dari Warlos menuju wisata Maribaya ini sebenarnya terbilang tidak begitu jauh hanya sekitar 16 km saja, tetapi karena kontur jalan perbukitan yang berliku, rusak, sebagian besar jalanan berbatu penuh dengan turunan cukup curam membuat perjalanan route kedua ini terasa lama.

Start dari Warung Kopi Warlos, perjalanan ditemani rintiknya hujan degnan intensitas kecil, gerimis lah ya… masih dengan jalanan tanjakan berbeton namun jalanan berbeton ini tak panjang, mungkin hanya sekitar 1 km karena setelah itu kita melewati jalanan yang rusak berbatu. Yap… CB150X kini diuji melewati jalanan menurun bebatuan plus tanah basah serta sebagian berpasir. Gimana impresinya?, soal tenaga dan power sudah tidak diragukan lagi, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, karakter mesin CB150R tidak perlu diragukan di jalanan seperti ini. Kondisi turunan bebatuan basah, jalanan tanah basah ini yang harus diuji adalah handlingnya.

Salah satu kelebihan CB150X ketika di jalanan aspal yang rata jalan raya adalah Handlingnya yg numero uno dikelas sport naked 150cc. Seperti pada saat saya test ride di Delta Mas, dengan kondisi jalanan aspla mulus buat menikung motor ini sangat nurut banget, bodi belakang langsung ngikut kedepan, ditambah dengan cengkeraman ban belakang juga ok punya alhasil liukannya bisa nyaman puuuol ditambah dengan ayunan sok USD SFF-BPnya asli ini jleb banget… Stang bisa nurut banget, badan langsung terbuai nggak mikirin mau ambruk karena terlalu miring karena saking nyamannya buat menikung. Akan tetapi ketika melewati jalanan tanah basah, dengan turunan bebatuan, kalian harus sangat hati-hati, meski saya bisa menguasai kondisi stang yang harus berbelok2 menghindari bebatuan terjal, akan tetapi ternyata bagian ban terutama roda belakang ini terus melintir. Karakter ban dari CB150X ini cukup licin ketika diajak semi off-road. Tapi yang perlu digaris bawahi bahwa, handling motor secara keseluruhan cukup bagus ketika melewati jalanan berkontur perbukitan dengan jalanan rusak.

Dengan kondisi berbatu gronjalan semi off-road ini justru saya bisa lebih merasakan sensasi sok depan dan belakang, sifat dari ayunan sok depan CB150X ini sejak awal sudah saya ceritakan jika ayunannya lebih empuk dibandingkan sok USD punya CB150R akan tetapi tidak seempuk punya CRF150L. Menarik saya ceritakan secara singkat disini, ayunan sok depan CB150X ini ketika melewati jalanan berbatuan tidak rata gini di kecepatan berkisar 10-20 kpj ternyata nggak mentul-mentul banget seperti ketika naik motor off-road tetapi tidak juga stangnya mental-mental layaknya sok depan yang terasa stiff. Tetapi ketika gas sedikit dibejek sekitar 30 kpj, stangnya jadi sedikit lebih anteng.

Jalanan sebagian besar turunan dan jalanan berbatu, pengereman juga ekstra kerja keras disini. Rem depan CB150X sudah cakram piringan wave disk brake dengan kaliper dua piston, sedangkan untuk rem cakram belakang juga wave disk brake namun dengan kaliper satu piston. Pengereman ini juga saya acungi jempol, tidak ada masalah sama sekali soal pengereman, tetap pakem dan pastinya meski tuas rem sering ditekan, tidak ada gejala mengunci.

Rombongan pun mengakhiri Etape kedua ini di wisata Maribaya, rehat sejenak setelah satu jam lebih harus menahan motor di kontur jalanan menurun berbatu plus hujan rintik2.

Etape Ketiga, Maribaya – Tangkuban Perahu

Meski dalam kondisi hujan deras, perjalanan tetap lanjut terus… jika sebelumnya basah-basahan di jalanan super komplit semi off-road, perjalanan dari Maribaya menuju wisata Tangkuban Perahu sudah mulai jalanan aspal jalan raya.

Etape ketiga ini bisa dibilang menjadi salah satu etape yang cukup berat, bukan berat soal treknya seperti di etape kedua akan tetapi rombongan benar-benar harus tahan dengan kondisi hujan deras dengan kondisi jalanan yang nanjak plus jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut yang sangat tebal.

Dari Maribaya sampai Tangkubang Perahu dengan kondisi jalanan yang full nanjak, disini mengetes kondisi power dan torsi dari CB150X. Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya jika motor ini memang memiliki power yang lebih rendah dari CB150R sedangkan untuk torsi masih sama. CB150R yang punya power sebesar 12,4 kW @9.000 rpm, melihat spek CB150X maka powernya lebih sedikit sekitar 0,9 KW. Karakter mesin menjadi jelas terbaca disini, mapping ECU yang dibedakan dengan CB150R karena untuk menyesuaikan karakter motor adventure.

Torsi di setiap gigi itu padat banget terutama di gigi 1, 2 dan 3. Berangkat dari Maribaya yang memiliki ketinggian 1.100 MDPL sampai samping kawah dari Gunung Tangkuban Parahu di ketinggian 2.084 MDPL. Selama perjalanan nanjak ke Gunung, nggak pernah yang namanya nurunin gigi sampai mentok gigi 1, meskipun tanjakan tajam, motor ini masih melek memakai gigi 3, artinya nafas torsi dari CB150X ini memang jagoan. Melihat nafas yang agak pendek, kesimpulan saya sich jangan berhaap lebih soal power atas ya bro, meskipun pada saat saya tes di trek lurus mudah juga menyentuh kecepatan 100 kpj dengan gigi 4.

Alhamdulilah rombongan setelah riding sekitar 14 km akhirnya sampai finish di etape ketiga tepatnya di kawah gunung Tangkuban Perahu, saat kondisi kabut tebal, jarak pandang mungkin hanya 50 meteran saja, benar2 kaut tebal banget.

Etape 4, Tangkuban Perahu – Billi Ranch Lembang

Perjalanan etape ketiga ini cukup singkat hanya sekitar 11 km saja, namun kali ini perjalanannya benar-benar sangat beda, jika perjalanan sebelumnya lebih banyak tanjakan kini justru kebalikannya, full turunan.

Kondisi trek yang sebagian besar jalanan turunan, lebih banyak mengandalkan engine brake serta kinerja pengereman. Engine brake yang dimiliki CB150X ini tergolong mesinnya halus terutama di bawah sekitar 8ribuan rpm. Kemudian jalanan aspal yang mulus dalam kondisi basah ternyata tidak menyulitkan ban belakang tetap ngegrip, berbeda sebelumnya ketika melewati jalanan bebatuan di etape kedua yang mudah licin.

Pengereman selama jalanan lebih banyak turunan ini juga saya bilang sangat bagus, motor ini tidak ada gejala mau ngeblong. Menggunakan kaliper Nissin 2 piston depan dan belakang 1 piston non ABS didukung dengan wave disc brak, rem tetap pakem meski cuaca dingin.

Etape 5, Billi Ranch – SRC DAM

Akhirnya perjalanan touring satu hari bersama CB150X menempuh perjalanan etape terakhir, menuju perjalanan sepanajng hampir 90 km. Disini lebih menekankan pada posisi kombinasi antara ergonomi dan handling. Trek dari Billi Ranch menuju SRC DAM yang merupakan posisi kita start ini sedikit turunan kemudian menuju area perkotaan pinggiran kota Bandung.

Perjalanan yang ditempuh selama menyelesaikan 4 etape sebelumnya tercatat sekitar 4 jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 70 km dengan berbagai karakter trek yang dilewati dari trek aspal mulus, tanah, jalanan rusak semi offroad kemudian trek lurus, tanjakan, turunan kondisi cuaca kering hingga hujan-hujanan. Salah satu fakta yang saya temukan ketika di Etape kelima ini adalah badan tidak capek, lah kok bisa?, posisi ergonomi yang nyaman banget bahkan bisa dibilang paling nyaman di kelas sport 150cc. Lekukan siku tangan bisa pas berpegangan dengan stang yang lebih tinggi dari CB150R. Sudut caster yang dimiliki CB150R sebesar 25 derajat, sedangkan untuk CB150X lebih besar yaitu 25,25 derajat. Dengan sudut caster yang besar, maka posisi stang jadi agak ke belakang dan inilah salah satu poin kelebihan yang dimiliki oleh CB150X, bikin badan tidak mudah capek saat perjalanan jauh karena posisi punggung cukup tegak.

Posisi ergonomi yang nyaman ditambah lagi dengan handling yang super nurut terutama ketika menikung, dengan ayunan sok USD SFF-BP yang empuk dikombinasikan cengkeraman ban belakang juga ok punya alhasil liukannya bisa nyaman puuuol.

Terbukti ketika rombongan sudah sampai garis finish, bukannya pada istirahat, para blogger, vlogger hingga jurnalis langsung pada asik dengan motor tunggangan masing2 untuk direview, ngevlog kang bro 🤣.

Konsumsi Bahan Bakar

Dari 5 etape yang sudah berhasil ditaklukkan berapa sich konsumsi bahan bakar yang diguyurkan fuelpump CB150X ke ruang bakar dengan berbagai kontur jalan, dari jalanan aspal mulus, aspla gronjal, bebatuan semi off-road dengan cuaca yang komplit dari terang di pagi hari kemudian diguyur hujan pada siang hingga sore harinya.

Dengan torsi yang padat, secara pelintiran bukaan gas motor ini tentunya akan membantu konsumsi bahan bakar jadi lebih minimal, pada touring kali ini berhasil menempuh total jarak 88,4 km dengan average rata-rata konsumsim bahan bakar yang tertera di speedometer menunjukkan angka 46,2 km/liter, gimana kang bro apakah irit?.

KESIMPULAN

Nggak perlu cerita panjang lebar lagi, dari toiring yang sudah saya lakoni menggunakan CB150X ini, kalau dulu motor sport 150cc yang punya handling paling mantap itu ada di motor Yamaha Byson, kini bergeser ke motor Honda CB150X. Asli ini motor handlignya ueeeenak pol tenan, mau diapain aja nurut. Kalau Byson itu handling enak tapi motor lemot, berbeda dengan CB150X handling jempolan ditambah torsi dan tenaganya juga jempolan.

Ayunan suspensi depan yang sangat baik, lincah, nurut, stabil serta lembut dikasih bonus desain yang ok punya di kelas 150cc, wes bikin ngiler ini…. lawong cuma dibanderol 32-33 jutaan saja.

Advertisements

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here