ARIPITSTOP.COM – Ducati hampir setiap tahunnya selalu menjadi pelopor dalam menelorkan teknologi baru yang diterapkan di MotoGP, dari yang bikin geger hingga membuat tim pabrikan lain komplain akan tetapi justru malah ikut-ikutan menerapkan teknologi terebut di motor-motor mereka, yah… sekarang memang Ducati menjadi pelopor teknologi di MotoGP.

Winglet

Masih ingat ketika pertama kalinya Ducati menerapkan winglet di motornya?, pertama kalinya Ducati memasang teknlogi ini semua pada heran apa fungsi sebenarnya motor dikasih sayap layaknya motor F1. Secara garis besar keberadaan winglet itu adalah demi meningkatkan downforce motor dan berfungsi sebagai ‘anti-wheelie’ (kondisi dimana roda bagian depan terangkat akibat akselerasi dan kecepatan tinggi).

Hingga akhirnya semua pabrikan pada latah mengikuti teknologi ini, bahkan Winglet kini juga terpasang di motor2 moge yang dijual bebas oleh para pabrikan Eropa maupun Jepang.

holeshot device

Kemudian yang kini menjadi andalan utama para pembalap ketika melakukan start saat balapan, Ducati membuat holeshot device. Cara kerja holeshot device adalah memungkinkan suspensi belakang dikompresi secara manual dengan tombol yang ditekan pembalap pada motor. Tujuannya agar motor punya performa super saat start atau memulai balapan. Kini beberapa pembalap, mulai juga memakai holeshot device saat keluar tikungan. Harapannya menambah akselerasi motor agar semakin lincah.

Rear ride height device

Kemudian ada lagi Rear ride height device, teknologi ini pertama kali diperkenalkan Ducati di MotoGP lewat Jack Miller pada 2019, dan seluruh pembalap mereka pun menggunakannya sepanjang 2020. Perangkat ini bertujuan memproduksi downforce dan grip tinggi pada bagian belakang motor demi meningkatkan akselerasi saat keluar tikungan.

Para rival pun meniru perangkat ini dan memakainya pada 2021, dan Suzuki satu-satunya tim yang tak memakai perangkat ini pada paruh pertama musim meski sudah dinanti-nanti oleh Mir dan Alex Rins. Namun, Suzuki akhirnya menyediakan versi prototipe pertamanya di sela Seri Styria dan sangat disambut baik oleh Mir.

Pernah ingat ketika 4 pabrikan menggugat Ducati?, ada 4 tim pabrikan yang menggugat ke pihak Steward MotoGP perihal desain Swing Arm motor Ducati yang dipakai untuk kemenangan Dovizioso di Qatar 2019 diduga ilegal. Meskipun akhirnya pihak Steward menyatakan bahwa desain terbaru dari motor GP19 tersebut legal dan sah.

Alih-alih menggugat, justru kini Winglet di kolong spakbor itu justru dipakai juga oleh tim pabrikan lain terutama ketika trek dalam kondisi hujan.

Dulu Dijauhi Kini Ditiru

Test rider Ducati Corse, Michele Pirro, mengaku bangga bisa menjadi bagian revolusi motor Desmosedici di MotoGP selama hampir satu dekade terakhir. Ia pun menjadi salah satu orang yang menjadi saksi betapa Ducati jadi pabrikan yang dijauhi para pembalap, hingga kini justru disebut sebagai motor terbaik dan malah jadi rebutan. Pirro telah menjadi test rider Ducati sejak pertengahan 2012, bekerja dengan Filippo Preziosi, yang kemudian jabatannya sebagai General Manager Ducati Corse diambil alih Gigi Dall’Igna pada akhir 2013.

Dall’Igna memang belum mengulang prestasi Preziosi dan Casey Stoner yang menjuarai MotoGP 2007, dan ia mentok sebagai runner up tiga kali dengan Andrea Dovizioso dan sekali dengan Pecco Bagnaia. Namun, tak dimungkiri bahwa tangan dinginnya menghadirkan banyak inovasi teknis baru di Ducati, yang kini justru ditiru para rival.

“Sekarang pabrikan Jepang mulai menjadikan kami inspirasi dan bahkan meniru. Menyenangkan melihat semua motor jadi mirip Ducati, dan ini mengonfirmasi bahwa kami bekerja dengan baik. Sebelumnya, Ducati dirakit berdasarkan arahan satu pembalap saja, seperti Casey, namun kini lebih ramah pada semua rider,” ungkap Pirro dilansir dari GPone.

“Sudah banyak pekerjaan yang dilakukan di Ducati. Namun, kami harus terus bekerja keras karena kami tak tahu apa yang dilakukan pabrikan lain. Ini sudah bagian dari keseharian kami, di mana targetnya adalah menjadi yang terbaik. Anda selalu bisa berbuat lebih, karena Anda pasti mencari sesuatu dengan segala cara,” tutur Pirro.

1 KOMENTAR

  1. Yang paling sulit itu menemukan dan jadi pelopor.
    Lebih mudah menjiplak dengan cara
    1. Perhatikan
    2. Analisis dan hipotesa cara kerja
    3. Jiplak
    4. Lihat hasilnya
    5. Sempurnakan…
    Kan.. kan… Gak susah-susah Sik kanglelan mikir langsung hasilnya optimal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini