ARIPITSTOP.COM – Luca Marini yang merupakan adik dari Valentino Rossi ini mengaku jika dirinya masih punya kekurangan yang belum bisa memenuhi sebagai pembalap yang terjun di kelas MotoGP. Dari tiga pembalap Rookie di musim 2021 memang terlihat Luca Marini yang tidak menonjol bahkan finish didalam 10 besar saja dirinya belum mampu.

Musim 2021 ini ada tiga pembalap Rookie yang semuanya naik motor Ducati, Jorge Martin, Enea Bastianini dan Luca Marini. Dari segi pencapaian dan performa, pembalap Sky VR46 Esponsorama Racing Luca Marini jelas berada di bawah dua rookie lainnya di kelas MotoGP musim 2021, Jorge Martin dan Enea Bastianini.

Jorge Martin yang berada di tim Pramac Ducati dengan motor spec GP21 sudah mampu satu kali juara seri di GP Styria di Sirkuit Red Bull Ring dan Bastianini mengklaim podium ketiga GP San Marino di Misano. Jorge Martin selalu bersaing ketat dengan pembalap 10 besar ketika balapan, bahkan kini Bartianini juga selalu moncer, hal ini berbanding terbalik dengan Luca Marini.

Hasil terbaik yang diperoleh Luca Marini adalah finis kelima dalam balapan flag-to-flag di GP Austria yang balapannya terasa semrawut. Itu pun jika tidak hujan, adik dari Valentino Rossi tersebut tidak pernah mampu menembus posisi 10 besar.

Saat ini Marini menempati posisi ke-20 dalam klasemen sementara MotoGP dengan raihan 30 angka. Sementara Martin ada di peringkat ke-11 (82 poin) dan Bastianini di urutan ke-13 (71 poin).

Luca Marini sadar jika dirinya belum mampu sepenuhnya memenuhi standar sebagai pembalap MotoGP terutama soal kebugaran fisiknya ketika balapan. Demi mengatasi problem sepanjang MotoGP 2021, Luca Marini sadar harus melakukan perubahan pada pelatihannya untuk 2022. Yang paling utama, pembalap 24 tahun merasa perlu meningkatkan kebugarannya.

“Memperbaiki kondisi fisik saya karena saya tidak punya kekuatan yang cukup untuk berkendara dengan maksimal selama balapan. Itu membuat saya kesulitan untuk melancarkan serangan seperti dalam sesi kualifikasi,” ungkap Marini dilansir dari Motorsport.

“Itulah masalah (saya) sepanjang tahun. Potensi motornya lebih baik. Di Austin (GP Amerika) saya dapat melaju lebih cepat setengah detik per lap. Namun secara fisik, itu (balapan) yang sangat sulit bagi saya. Saya telah melakukan kesalahan musim ini bersama pelatih kebugaran saya karena saya tidak sanggup membalap dengan kecepatan 100 persen selama 40 menit. Enea jelas membuat perbedaan di area ini.” terang adik Valentino Rossi ini.

“Dia mampu menyerang dengan kecepatan 100 persen di setiap lap. Kecepatannya bagus dan konsisten. Menurut saya, dia cukup kuat. Jadi saya harus memperbaikinya. Saya perlu mengubah latihan di tahun depan,” Marini menambahkan.

Oleh karena itu, Marini ingin memanfaatkan periode kosong antara balapan GP Amerika dan GP Emilia Romagna untuk menganalisis program latihannya. Idealnya, membuat menu berbeda di musim dingin sehingga ia lebih siap tahun depan.

“Saya perlu berbicara dengan pelatih dan pembalap lain dari akademi (VR46). Pecco (Bagnaia) sangat bagus di area ini. Kami berlatih dengan cara yang sama. Jadi, saya butuh pelatihan spesial. Kami harus mencari solusi,” ujarnya.

Masalah ergonomi juga merupakan aspek penting. Misalnya Jorge Lorenzo menghabiskan satu setengah tahun untuk mengutak-atik posisi duduk optimal untuk Ducati sehingga ia bisa mendapat hasil maksimal saat balapan.

Luca Marini juga telah mengerjakan subyek ini dalam beberapa bulan terakhir. “Saya telah melakukan banyak hal dengan motor. Kini, saya punya posisi berkendara yang nyaman. Saya bisa menggunakan kaki, tangki dan lengan,” ucapnya.

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here