ARIPITSTOP.COM – Entah ini dinamakan kemunduran atau memang sebuah kegagalan Yamaha dalam mengembangkan mesin M1 2020 yang membuat para pembalapnya tidak bisa stabil dan konsisten dalam melakoni balapan musim 2020. Bahkan Quartararo yang paling banyak menang di musim ini baru saja berujar kalau dirinya menginginkan memakai mesin 2019 untuk balapan musim depan,meski itu sebuah hal yang mustahil.

Meski merebut tiga kemenangan sepanjang MotoGP 2020, Quartararo dapat cap sebagai salah satu dari sekian banyak pembalap yang performanya sama sekali tak konsisten. Hal ini pun berkebalikan dengan tahun lalu, Quartararo justru sangat konsisten hingga meraih tujuh podium.

Penampilan Quartararo memang tidak bisa konsisten musim ini, sempat memimpin klasemen selama 11 seri, ia harus mengakui kekuatan Suzuki, terutama di tangan Joan Mir. Usai sekadar finis ke-14 di MotoGP Eropa, Minggu (8/11/2020), kini ia tertinggal 37 poin dari Mir dengan dua seri tersisa.

Akibatnya kini Quartararo justru lebih memilih mesin 2019 dibandingkan memakai mesin baru lagi untuk menjalani musim depan. Quartararo menyebut M1 2020 sangat jauh berbeda dari M1 2019. Banyak permasalahan mesin mendera, yang juga jadi keluhan Maverick Vinales dan Valentino Rossi. Di lain sisi, Morbidelli yang musim ini memakai masih memakai mesin 2019 justru minim masalah dan cenderung stabil. Bahkan Morbidelli paling konsisten di akhir2 musim 2020 ini ketika ketiga pembalap Yamaha yang lain pada kedodoran akibat masalah mesin.

“Saya cemas, namun ingin mencari tahu apakah kami bisa pakai motor tahun lalu, apakah ini memungkinkan, ataukah kami harus tetap pakai motor yang benar-benar sama seperti tahun ini. Tapi yang jelas kami harus mengubah banyak hal pada cara kerja kami, bukan hanya pada tim, tapi Yamaha secara keseluruhan,” ujar Quartararo dilansir dari Autosport.

“Jujur saja, lap-lap perdana saya dengan motor 2020 terjadi pada kondisi kering. Seperti yang saya katakan, motor tahun ini sangat berbeda dari motor lalu, dan saya tak merasa motor ini seperti motor saya sendiri. Jika langsung kompetitif pada FP1, maka semuanya sempurna. Tapi jika FP1 saja sulit, maka kami tersesat,” tutupnya.

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here