ARIPITSTOP.COM – Permasalahan kemacetan di ibu kota memang sudah semakin memprihatinkan, berbagai upaya dari pemerintah sampai saat ini belum ada hasil yang signifikan, salah satu faktor penyebab gagalnya upaya memecah kemacetan tentu saja tidak ada batasan mengkonsumsi kendaraan bermotor bagi Masyarakat. Bayangkan saja dalam satu orang bisa memiliki lebih dari 10 motor, “yap… mereka mampu beli kok”, satu pegawai dipegangi satu motor, disinilah titik permasalahanya ditambah faktor transportasi umum yang tidak memadai. Seharusnya sudah ada pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan serta pembatasan umur kendaraan bermotor, pajak progresif tidak masalah bagi mereka yang mampu membayar…

Populasi kendaraan bermotor tidak sebanding dengan pembangunan jalan, jalanan semakin padat dan populasi kendaraan dengan cepat meningkat. Pembelian kendaraan bermotor yang sangat mudah seperti adanya DP ringan bahkan DP Rp.0, inilah penyebab populasi kendaraan tidak bisa dibendung.

Transportasi massal yang sampai saat ini juga dinilai sepenuhnya belum optimal sehingga Masyarakat masih lebih memilih memakai kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum.

Wacana yang sedang menarik saat ini adalah adanya usulan sistem ganjil genap juga berlaku di motor. Dilansir dari liputan6.com, Dinas Perhubungan telah mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas sistem ganjil genap yang diberlakukan selama perhelatan Asian Games 2018. Dalam rapat tersebut, salah satu peserta mengusulkan pemberlakuan ganjil genap untuk motor.

Agenda ini dihadiri beberapa perwakilan komunitas, di antaranya Kepala BPTJ Bambang Prihartono, Sudit Keamanan dan Keselamatan Polda Metro Jaya Sutikno, Anggota Commuter Line Mania Anthony Ladjar, dan Anggota Komite Penghapusan Bersin Bertimbal Ahmad Safrudin.

Masing-masing perwakilan menyampaikan evaluasi dan rekomendasinya. Salah satu rekomendasi yang menarik berasal dari Anthony yakni pemberlakuan sistem ganjil genap untuk kendaraan roda dua. “Harapan saya dengan adanya ganjil genap ini, tolong motor juga berlaku pak,” kata Anthony.

Anthony bercerita, saat motor dilarang melintas di Sudirman-Thamrin, mengendarai sepeda di Jakarta terasa nyaman. Ia bisa menyapa pengendara mobil sambil menggoes sepedanya. “Kalau sekarang saya dadah-dadah sama mobil, motor ngantri di belakang saya,” ungkapnya.

Anthony tidak bermaksud untuk melanggar hak asasi manusia (HAM). Namun, menurutnya urusan polusi sudah tidak bisa dibatasi dengan HAM. “Justru saya tanya hak saya sebagai manusia di Jakarta yang terkena paparan polusi, itu yang harusnya dibela,” ujarnya.

Ahmad Safrudin dari Komite Penghapusan Bersin Bertimbal menyatakan bahwa terjadi penurunan gas karbondioksida (CO2) 4,75 juta hingga 7,77 ton per tahun dari total emisi CO2 selama berlangsungnya sistem ganjil genap. Pria yang juga disapa Puput ini juga menyebut adanya penghematan bahan bakar minyak (BBM) hingga Rp 19 triliun per tahun sebagai dampak dari sistem ganjil genap.

Selama pemberlakukan sistem ganjil genap, Kepala BPTJ Bambang Prihartono menyatakan jumlah pengguna Commuter Line naik sebanyak 20% sementara Bus Transjakarta mengalami lebih banyak peningkatan yakni 40%. Hal ini dianggap sebagai prestasi karena peningkatan di jalur alternatif sendiri hanya naik sedikit yaitu sebanyak 2%.

“Tentu ganjil genap bukan satu satunya“, jawab Bambang saat ditanya terkait rencana penerapan sistem ganjil genap dalam jangka panjang. Sistem ganjil genap dianggap dapat dilakukan dalam waktu dekat, dan disebut sebagai sistem transisi sebelum sistem jalan berbayar yang menjadi kebijakan final untuk ditetapkan di DKI Jakarta.

Tuch kan… kalau ngomongin HAM semua bisa ikut berbicara, karena nanti kalau aturan ini benar adanya maka pasti para pengguna motor akan berteriak2 HAM. Dan dikubu lai juga akan membalas dengan HAM juga…

Advertisements

15 KOMENTAR

  1. ganjil genap buat motor. Terapin aja. Pst pd bisa beli motor second, tinggal cari yg plat nya berlawanan sm motor yg udah ada dirumah
    polusi. Itu metro mini ngga di perhatiin juga kah knalpotnya udah kayak cumi cumi gitu. Motor kan juga udah euro 3 atau 4 yg keluar baru baru. Populasi motor lamanya beda jauh lah sm yg baru pastinya.
    nyaman di jalan. Nah kalo ini ga bisa ngelak deh. Kebanyakan pemotor memang udah bringasan. Kita orang jalan pelan di sebelah trotoar aja masih di klaksonin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here