tilang

Sebut saja kisah cerita ini menceritakan dua orang tukang bangunan yang lagi apes akibat bertemu dengan polisi. Namanya Agus (35) dan Kasmin (50) warga Rejowinangun, Desa Kalongan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Dua orang ini adalah pekerja bangunan bekerja untuk menghidupi anak dan istrinya di rumah.

Hari semakin terik seteriknya ibarat berjemur seorang bule yang berjemur di pantai untuk menghitamkan kulitnya. Hawa panas menyengat di hari menjelang sore membuat perut agus semakin keroncongan karena usus di dalam perut tak mau diam akibat tidak ada bahan makanan yang digiles untuk diserap menjadi tenaga. Bekerja sebagai tukang bangunan butuh tenaga yang kuat apalagi kerjaannya yang sering mengangkat benda2 berat.

Karena perut sudah tidak bisa bertahan alhasil agus mengajak kasmin untuk membeli gorengan di pinggir jalan raya tak jauh dari lokasi rumah yang sedang mereka garap. ”mbah kasmin ayo buruan beli gorengan, beli 5000 saja yang penting buat ganjel perut sampai ntar malam”, teriak agus. Agus yang sudah standby di motor bututnya ( maklum motor grand 95 warisan bapaknya) langsung menghidupkan motornya, ditunggu lama baru keluar ternyata mbah kasmin sedang meminjam helm ke tukang bangunan yang lain. Si agus berkata kepada mbah kasmin ”tigak usah pakai helm cuma dekat, malu2in aja emangnya mau pergi ke jakarta.” serunya agus.

Akhirnya mbas kasmin menuruti permintaan si agus yang masih memakai celana kolor celana kerjanya, meluncurlah keduanya dengan motor butut tanpa memakai helm, masuk jalan raya kemudian sekitar 300 meter sudah menemukan penjual gorengan, ”beli 5000 campur ya mbak, ni uangnya”, seru agus ke penjual gorengan.

Pulanglah keduanya namun tak disangka didepan ada razia yang diadakan oleh polantas semarang, ”modiiiar mbah.. aku ora gowo SIM ki,” cetus si agus.

”La ini kita tidak pakai helm juga”, tambah mbah kasmin.

Dicegatlah si agus oleh seorang polantas, ”siang pak, kami sedang melakukan operasi patuh candi 2016, tunjukkan SIM dan STNK.” tegas pak polantas.

Agus pun langsung menjawab, tidak ada semuanya pak.

”Ya sudah anda saya tilang melanggar tiga pasal tanpa helm, SIM dan STNK. Motor kami tahan karena tidak bisa menunjukkan STNK.” bilang pak polantas kepada agus.

Berdasarkan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (UU LLAJ) pasal 281 jo pasal 77 ayat (1) bahwa denda resmi bagi pengemudi kendaran bermotor yang tidak memiliki SIM maksimal adalah Rp 1 juta.

Sedangkan tidak menggunakan helm SNI berdasarkan pasal 291 ayat (1) jo pasal 106 ayat (8) denda maksimalnya adalah Rp 250.000.

“Gorengannya sih cuma 5000 tapi nanti bayar tilangnya berapa? Mungkin ini gorengan paling mahal sedunia,” kata Agus.

sumber : tribunnews.

Advertisements

11 KOMENTAR

  1. Pak Polisi benar-benar tegas kalau yg melanggar rakyat ketjil, tapi begitu yang melanggar ngaku keluarga Djendral langsung disuruh lewat, bahkan klo dimaki juga monggp saja!

  2. cerita nya kok mirip ya sama temen ane, waktu itu ia mau beli pulsa hp bawa duit 50 rebu, keluar bentar mau beli pulsa tuh di jalan depan, paling 100meteran dari rumah ke jalan raya, nyampe rumah gerutu terus, DIANCOK!!! ora sido ntok pulsa, kena tilang ne ngarep ra gowo helm, duit 50 arep tuku pulsa maleh sidane tak wehke polisi.

    ngoahahaha..!!! nguik…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here